09 Sep 2008
A baby asked God, "They tell me you are sending me to earth tomorrow, but how am I going to live there being so small and helpless?"
"Your angel will be waiting for you and will take care of you."
The child further inquired, "But tell me, here in heaven I don't have to do anything but sing and smile to be happy."
God said, "Your angel will sing for you and will also smile for you. And you will feel your angel's love and be very happy."
Again the child asked, "And how am I going to be able to understand when people talk to me if I don't know the language?"
God said, "Your angel will tell you the most beautiful and sweet words you will ever hear, and with much patience and care, your angel will teach you how to speak."
"And what am I going to do when I want to talk to you?"
God said, "Your angel will place your hands together and will teach you how to pray."
"Who will protect me?"
God said, "Your angel will defend you even if it means risking it's life."
"But I will always be sad because I will not see you anymore."
God said, "Your angel will always talk to you about Me and will teach you the way to come back to Me, even though I will always be next to you."
At that moment there was much peace in Heaven, but voices from Earth could be heard and the child hurriedly asked, "God, if I am to leave now, please tell me my angel's name."
"You will simply call her, 'Mom.'"
09 Sep 2008
Besi Bervalensi Nol atau Zero Valent Iron
1.Penggunaan Besi untuk Remediasi
Besi adalah salah satu zat yang paling banyak terdapat di alam, kira-kira 5% permukaan bumi, dan zat yang penting untuk kehidupan sebagian besar organisme. ZVI mempunyai potensial standar (Fe2+/Fe) sebesar – 0,44 volt, nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan kebanyakan logam, seperti Pb, Cd, Ni, Cr, dan senyawa organik lainnya seperti hidrokarbon berklorin sehingga besi dapat mereduksi zat-zat tersebut. Salah satu aspek yang menarik untuk diteliti adalah penggunaan besi bervalensi nol atau zero valent iron (ZVI) untuk remediasi lingkungan, termasuk air tanah. Logam bervalensi nol (Fe0, Zn0, Sn0, dan Al0) adalah zat yang dapat digunakan untuk remediasi air tanah yang terkontaminasi (Powell dkk., 1995; Warren dkk., 1995). Besi lebih disukai dan banyak digunakan karena banyak tersedia di alam, murah, dan tidak beracun (Gillham dan O’Hannesin, 1994; Liang dkk., 2000). Penggunaan ZVI atau Fe0 untuk remediasi telah banyak dipelajari selama lebih dari 10 tahun. ZVI adalah zat yang efektif untuk mereduksi berbagai kontaminan, termasuk deklorinasi pelarut berklor yang terkandung dalam air tanah yang terkontaminasi (Matcheson dan Trantyek, 1994; Powell dkk., 1995), reduksi nitrat menjadi N2 dan amonium (Chew dan Zhang, 1999; Choe dkk., 2000; Rahman dan Agrawal, 1997; Prasetiati dan Takizawa, 2007), mengendapkan beberapa kation dan anion inorganik (Charlet dkk., 1998; Lackovic dkk., 2000; Morrison dkk., 2002; Powell dkk., 1995; Pratt dkk., 1997; Su dan Puls, 2001), reduksi logam (Morrison dkk., 2002), dan reduksi zat organik lainnya. Reduksi kontaminan yang resisten terhadap biodegradasi juga dapat dilakukan oleh ZVI (Bell dkk., 2003).
2. Proses Reduksi oleh ZVI
Proses reduksi dalam sistem ZVI adalah reaksi reduksi-oksidasi (redoks) di mana logam besi bertindak sebagai donor elektron untuk mereduksi sejumlah kontaminan menjadi bentuk yang tidak atau kurang berbahaya. Selain itu, reaksi reduksi oleh ZVI dapat digolongkan dalam reaksi heterogen karena fasa ZVI (padat) dan kontaminan (larutan) berbeda. Besi bervalensi nol dapat melakukan transfer elektron karena konfigurasi elektron pada kulit terluar atomnya tidak stabil. Besi (nomor atom 26) bervalensi nol memiliki konfigurasi elektron 1S2 2S2 2P6 3S2 3P6 3D6 4S2, dengan kulit terluar 3D dan 4S seperti yang terlihat pada gambar 2.2. Agar stabil besi bervalensi nol harus melepas dua (pada orbital 4S saja), menjadi besi bervalensi dua, atau tiga elektron (dua pada orbital 4S dan satu pada orbital 3D) menjadi besi bervalensi tiga. Bentuk yang paling stabil dari besi adalah besi bervalensi tiga (Fe3+).
Pada keadaan tanpa oksigen atau anaerobik, ZVI dapat mereduksi air menjadi gas hidrogen dan OH- (Trantyek dkk., 2003) melalui reaksi berikut:
Fe0 + 2H2O → Fe2++ H2 + 2OH−
Reaktan lain juga dapat direduksi oleh ZVI. Contohnya adalah reduksi halokarbon atau alkil klorida (Kaplan dkk., 1996; Matheson dan Tratnyek, 1994; Tratnyek dkk., 2003) melalui reaksi berikut:
Fe0 + R-Cl + H+→ Fe2++ R-H + Cl−
Boronina dkk. (1995) mempelajari reduksi organohalida menggunakan partikel logam seperti magnesium, timah, dan seng dan mengamati bahwa kemampuan logam mereduksi klorokarbon dipengaruhi oleh jumlah logam yang bereaksi dan luas permukaannya. Kehadiran oksigen dapat mengurangi efisiensi proses reduksi karena oksigen akan bereaksi dengan ZVI sehingga terjadi kompetisi antara oksigen dan kontaminan. Reaksi antara ZVI dan oksigen mengikuti mekanisme berikut:
2 Fe0 + O2 + 2 H2O → 2 Fe2++ 4 OH−
Selain itu, oksidasi lanjut Fe2+ menjadi Fe3+ akan menyebabkan terbentuknya lapisan hidroksida yang akan mengurangi permukaan aktif seperti yang terlihat pada gambar 2.4.
Hal ini dibuktikan oleh Trantyek dkk. (2005) yang menemukan bahwa waktu paruh deklorinasi 180 µM karbon tetraklorida oleh 16,7 g/L Fe0 granular ukuran 325 mesh meningkat dari 3,5 jam saat larutan yang sedang bereaksi dialirkan N2 menjadi 111 jam saat larutan yang sedang bereaksi dialirkan O2 namun turun menjadi 0,8 jam saat larutan yang sedang bereaksi dialirkan udara.
3. Aplikasi ZVI Granular pada Permeable Reactive Barrier (PRB)
Permeable reactive barrier (PRB) adalah teknologi alternatif yang sedang berkembang untuk sistem konvensional pompa-dan-remediasi (pump-and-treat) untuk proses remediasi air tanah cara in-situ. Air tercemar melewati PRB dan senyawa organik atau kontaminan lain akan tereduksi saat kontak dengan PRB sehingga air yang telah melewati PRB bersih dari kontaminan. Konfigurasi PRB dapat dilihat pada gambar 2.5. O’Hannesin dan Gillham (1998) telah berhasil melakukan percobaan dengan ZVI granular untuk mengatasi senyawa organik berklor. Beberapa keuntungan PRB dibanding metode eks-situ yang sudah ada adalah PRB tidak membutuhkan sumber energi luar (seperti listrik untuk pompa), besi sebagai reactive barrier dapat bertahan selama 10-20 tahun, dan PRB lebih efektif dibanding sistem pompa-dan-remediasi (Day dkk., 1999; Fruchter dkk., 2000; USDEGJO, 1989).
Walaupun biaya pembuatan dan pemasangan PRB cukup tinggi, namun biaya operasi dan perawatannya jauh lebih murah. Hal yang menjadi perhatian utama adalah massa kerja PRB. Massa kerja PRB yang menggunakan Fe0 dibatasi oleh presipitasi barrier (Liang dkk., 2003). Perawatan dan biaya teknologi ini juga menjadi perhatian (Felsot dkk., 2003). Walaupun demikian, PRB adalah alternatif yang potensial (Birke dkk., 2003).
4. PRB dan Koloid ZVI
Salah satu penggunaan ZVI pada permeable reactive barrier adalah injeksi koloid ZVI ke dalam media berpori. Pada sistem media berpori, koloid pelindung ditempatkan dalam daerah subpermukaan tegak lurus dengan aliran air tanah seperti yang terlihat pada gambar 2.6. Lalu koloid tersebut mereduksi kontaminan yang terbawa dalam air tanah yang melewatinya (Kaplan dkk., 1996).
5. Penggunaan ZVI dan H2O2
Reaksi Fenton mereaksikan ZVI dan hidrogen peroksida (H2O2) menghasilkan radikal hidroksi melalui reaksi-reaksi berikut
Fe2+ + H2O2 → Fe3+ + ·OH + OH- dan Fe3+ + H2O2 → Fe2+ + ·OOH + H+
Radikal hidroksi tersebut bereaksi dengan hampir semua senyawa organik. Hundal dkk. (1997) menunjukkan penggunaan ZVI dan peroksida dapat mereduksi 2,4,6-trinitrotoluene (TNT) dan heksahidro-1,3,5-trinitro-1,3,5-triazine (RDX) lebih baik dari pada penggunaan ZVI saja karena jumlah ZVI yang dibutuhkan untuk remediasi menjadi lebih sedikit.
6. ZVI Berukuran Nano atau Nano-sized ZVI (NZVI)
Partikel berskala nano telah lama ada dalam sistem lingkungan dan memainkan peranan yang signifikan secara fungsional di berbagai sistem lingkungan. Contoh alami terdapatnya partikel berskala nano secara alamiah adalah besi oksida dan silikat yang dihasilkan dari erosi mineral. Selain itu nanopartikel ditemukan pula dalam emisi yang dihasilkan dari proses pembakaran yaitu jelaga karbon atau carbon soot. Kemajuan terkini di dalam nanosains adalah telah menyediakan peralatan untuk mengkarakterisasi dan memanipulasi secara alamiah kemunculan nanomaterial yang sama baiknya dengan menghasilkan nanopartikel terekayasa (contoh logam oksida, carbon nanotubes,dan buckminsterfullerene). Dengan pesatnya kemajuan nanoteknologi, saat ini para ilmuwan dan insinyur dapat mengendalikan sifat fisik dan kimia nanopartikel dan merancangnya untuk aplikasi tertentu. (Wiesner dan Bottero, 2007)
Nanomaterial memiliki sifat yang unik bila dibandingkan material pada skala bulk dengan komposisi umum yang sama. Pada skala nano, sifat material seperti konduktivitas listrik, warna, kekuatan, dan kereaktifan akan berubah. Perubahan sifat fisik dan kimia dari nanomaterial ini merupakan perubahan di bawah pengaruh efek dari ukuran yang meliputi quantum confinement (pengurungan kuantum) pada semikonduktor partikel, resonansi plasmon (kuantum dari osilasi plasma) permukaan pada beberapa partikel logam dan superparamagnet pada material magnetik. (Wiesner dan Bottero, 2007) Nanoteknologi berpotensi untuk menghasilkan teknologi pengolahan in situ yang efektif dan baru untuk zona sumber kontaminan bawah tanah. Kemajuan yang cepat dalam nanoteknologi menghasilkan pembuatan nanopartikel baru dengan sifat fisik dan kimia yang unik serta terkontrol. Sifat-sifatnya tersebut dapat diubah untuk membuatnya sangat reaktif terhadap polutan organik dan untuk mengurangi formasi racun yang tidak diinginkan di dalam produk (Lowry, 2007). Nanopartikel, partikel dengan ukuran nano meter atau 10-9 m, mempunyai potensi yang besar dalam penanganan masalah air, limbah, dan polusi udara (Li dkk., 2006).
Partikel berukuran nano memiliki sifat-sifat yang penting, seperti ukuran partikel, struktur, densitas, dan reaktivitas intrinsik permukaan (Li dkk., 2006). Zhang dkk. (1998) di Lehigh University meneliti aplikasi partikel ZVI berukuran nano (1-100 nm) untuk mereduksi kontaminan organik dan menemukan tidak hanya reaktivitas NZVI yang lebih besar akibat dari meningkatnya luas permukaan (33,5 m2/g untuk NZVI dan 0,9 m2/g untuk microsized ZVI) tapi juga laju reaksinya (100 kali lipat). Oleh karenanya NZVI lebih reaktif dan efektif dibandingkan microsized ZVI. Peningkatan laju reaksi NZVI lebih lanjut dapat dilakukan dengan memadukannya bersama logam lain seperti palladium pada skala nano (Elliot dan Zhang, 2001). Pada tabel 2.3 disajikan berbagai ukuran zero valent iron.
Tabel 2.3 Berbagai ukuran partikel besi dan luas permukaannya
| |
Nano-irona |
Micro-ironb |
Granular-ironc |
| Diameter partikel (nm) |
10-100 |
150.000 |
500.000 |
| Luas permukaan spesifik (m2/g) |
30 |
0,1-1 |
0,04 |
a Nurmi dkk. (2005)b Nurmi dkk. (2005)c Huang dkk. (2003)
Nanopartikel dapat memberikan teknologi remediasi yang efektif dan fleksibel untuk kontaminan air tanah seperti hidrokarbon berklor (Elliot dan Zhang, 2001). Karena reaksi dengan organohalida biasanya melalui proses termediasi permukaan inner-sphere, penggunaan NZVI, dengan luas permukaannya yang besar, menjadi sangat potensial. Namun ZVI (segala ukuran) memiliki batasan, yaitu zat yang direduksi harus menjadi lebih mudah diolah oleh teknik lain atau menjadi zat yang kurang berbahaya. Jika zat hasil reduksi menjadi lebih berbahaya atau sulit diolah dengan teknik lain maka ZVI tidak bisa digunakan sebagai teknik remediasi.
09 Sep 2008
Nggak ada efek samping
Anto: “Dok, menurut penelitian para ahli farmasi pil Viagra itu dipastikan nggak ada efek samping…”
Dokter: “Anto, semua obat itu pasti ada efek sampingnya, jadi nggak bener itu Viagra nggak ada efek samping...”
Anto: “Iya bener Dok... mereka punya buktinya... Viagra itu nggak ada efek samping... menurut para ahli disana jelas terlihat bahwa Viagra mempunyai efek kedepan...”
09 Sep 2008
Berapa sih tadi angkanya
Sekelompok lelaki jongkok berkeliling di ujung jalan. Mereka sedang berjudi dengan menggunakan dadu. Tiba² datang seorang perempuan seksi yang langsung saja duduk diantara mereka dan meletakkan uang setengah juta rupiah sebagai taruhan. Bandar setuju.
"Nggak keberatan kan kalau saya melepaskan rok saya agar saya bisa duduk dengan enak dan melempar dadu dengan enak," perempuan tersebut melepaskan roknya dan ternyata ia tidak memakai CD.
Ia duduk di atas kedua lututnya kakinya yang merenggang, dan kemudian dengan setengah menungging, perempuan tersebut melemparkan dadunya.
"Ayolah sayang... buat beli CD nih!"
Sesaat kemudian, "Hore. aku menang, aku menang." Perempuan tersebut berteriak kegirangan sambil mengambil uang dan bajunya, kemudian segera meninggalkan tempat tersebut. Semua lelaki yang berada di situ melongo.
Akhirnya seseorang bertanya, "Berapa sih tadi angkanya?"
Yang lain saling berpandangan dan kemudian berkata,
"Aku tadi juga nggak melihat dadunya."
09 Sep 2008
Tidak pernah kamu pakai
Ida dan Adi telah menikah selama 20 tahun. Suatu hari ketika Ida pulang dari menjenguk ibunya, didapatinya Adi sedang berhubungan intim dengan perempuan muda di kamarnya. Dengan marah, Ida membanting pintu dan bermaksud pergi meninggalkan rumah.
Adi mengejarnya sambil berkata, "Dengar dulu dong penjelasanku. Paling tidak sebelum kamu pergi, kamu tahu asal mula kejadian ini." Agak penasaran, Ida menghentikan langkahnya.
"Tadi waktu pulang kantor, aku melihat perempuan muda ini di jalan, dengan pakaian compang camping dan basah akibat kehujanan. Merasa kasihan, aku bawa dia kerumah. Dia lapar, jadi aku beri makanan yang kamu simpan di kulkas, yang kamu sudah lupa. Lalu kuberi pakaianmu yang sudah lama tidak kamu pakai karena kekecilan. Lalu aku lihat dia tidak pakai alas kaki, jadi aku beri sandalmu yang tidak kaupakai lagi karena sudah ketinggalan jaman. Terus aku beri dia sweater yang dulu kubelikan untuk ulang tahunmu, tapi nggak pernah kamu pakai juga karena warnanya tidak cocok," kata suaminya.
Dia menambahkan, "Sebenarnya perempuan tersebut sudah mau pergi ketika dia bertanya, "Masih ada nggak, barang yang tidak pernah lagi dipakai oleh istri Bapak?"